ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Mentalitas Jangkrik

Amsal 4: 23
Jagalah hatimu dari segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan

Seorang anak menangkap beberapa ekor jangkrik dan menaruhnya di sebuah stoples dengan lubang yang besar. Dia menaruh ke dalam stoples rumput, lalat, buah berry dan sebagainya. Lalu stoples ditutup dengan membuat beberapa lubang kecil di atasnya agar jangkrik bisa bernapas.

Tak lama setelah itu, jangkrik-jangkrik itu mulai mencoba untuk keluar dari tempat itu. Mereka mulai menggedor-gedor tutup stoples lalu turun kembali. Hal itu dilakukan berulang-ulang selama beberapa hari dan setelah itu mereka berhenti. Jangkrik terlihat mulai beradaptasi dengan tempat barunya.

Kemudian sang anak mencoba membuka tutup stoples dan dia kemudian menyaksikan bahwa jangkrik tak sekalipun mencoba lagi untuk keluar dari stoples. Padahal, tutup stoples sudah dibuka dan mereka bisa saja keluar tanpa hambatan. Kenapa? Karena seiring berjalannya waktu, jangkrik tersebut sudah terbiasa dengan kondisi yang mereka hadapi. Mereka menerima takdir mereka sendiri.

Banyak di antara kita yang mengalami hal semacam itu. Kita mudah percaya dengan segala hal yang kita dengar atau lihat, hingga akhirnya membuat kita merasa terpenjara. Padahal Amsal 4: 23 mengingatkan agar kita menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan karena dari sana terpancar kehidupan. Artinya, kita seharusnya lebih berhati-hati dengan segala yang kita percayai. Jika kita percaya kita gagal, tidak layak, atau dikucilkan maka kita akan menjadi demikian. Pikiran tersebut hanyalah tipu muslihat yang mengelabui kita dari kebenaran.

Sistem kepercayaan apapun yang kita masukkan ke dalam hati kita, itulah yang akan terpancar. Dan apapun yang berasal dari hati adalah gambaran yang dipercayai. Ini bisa menjadi siklus yang sangat buruk. Sekalipun orang lain memberitahukan kebenaran dan jalan keluar, jika hati kita tidak percaya, kita tidak akan pernah mencoba menaatinya. Karena kita cenderung membuat perhitungan dengan diri kita sendiri; dengan apa yang kita percayai (Amsal 23: 7).

Mungkin kita telah mengalami perlakuan yang tidak baik atau penghinaan dari orang lain. Lalu kita berjuang, tetapi seiiring waktu, kita mulai kelelahan dan lambat laun perjuangan kita semakin melemah. Kita pun mulai terpenjara oleh kata-kata dan tindakan orang lain. Seperti jangkrik, ketika mereka tak lagi percaya ada jalan keluar, mereka pun berhenti berusaha.

Untungnya, ketika kita mengetahui kebenaran dari pribadi Yesus Kristus, kita sudah dibebaskan dari penjara tersebut. Hanya saja, kita harus terus menjaga hati kita, sehingga hanya kebenaran firman Tuhanlah yang berdiam di sana, dan membuat kita terkendali. Rasul Paulus berkata dalam Roma 6: 18, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Dosa telah memenjarakan kita, tetapi kebenaran dan pemahaman kita di dalam firman Tuhan telah membebaskan kita. Jadi, tetaplah menjaga hati! – Daphne Delay

Awasi Persahabatanmu.

Sebagai makhluk sosial Anda butuh berinteraksi, berkomunikasi, dan berhubungan dengan manusia lain. Anda tidak dapat hidup tampa orang lain, dan orang lain pun butuh Anda. Sekalipun secara alamiah Anda butuh ikatan sosial dengan orang lain namun itu bukan berarti menjadi alasan untuk bersahabat dengan siapa saja. Anda boleh saja berteman kepada orang-orang yang berpotensi mencelakakan hidup rohani Anda, namun jangan jadikan mereka sahabat jika Anda tidak mau celaka. Bagilah hati Anda kepada seorang sahabat yang takut akan Tuhan, maka Anda akan dibuat maju secara rohani olehnya.

Amsal 18:24 "Ada teman yang mendatangkan kecelakaan,
tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara."

BERTEMAN DENGAN SIAPA SAJA BOLEH, 
TETAPI ANDA HARUS MEMILIH SAHABAT YANG BAIK DAN BENAR.
(Pdt. Hengky Setiawan)

Top